DILEMA
Karya :
Ella Rosatifana
“Dalam menapaki kehidupan terkadang
seseorang akan dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit untuk dipilih.
Itulah
suatu Dilema .
Namun
bagaimanapun juga suatu pilihan tersebut harus dipilih mana yang terbaik untuk
diri sendiri dan mana yang terbaik untuk orang lain.
Jika
kita selalu terombang-ambing dalam suatu pilihan maka kita tidak akan menemukan
suatu jawaban yang kita pilih.”
Saat itu tengah
malam sekitar jam 12.15 terlihat seorang gadis yang merenung sendirian didekat
cendela cendela kamarnya, dia adalah Putri. Ia terus memandangi bintang-bintang
di atas langit yang tersenyum heran melihat Putri yang merenung sendirian dan hanya di temani
oleh tetesan air mata yang keluar dari matanya. “Kenapa kamu jadi seperti ini ?
Sebenarnya apa salahku? “ pertanyaan yang selalu muncul dalam hatinya.
Malam itu Putri
benar – benar tidak bisa tidur karena memikirkan sikap Sandi yang tiba – tiba
berubah akhir – akhir ini. Sandi adalah seorang laki – laki yang sangat Putri
cintai, bisa dibilang Sandi adalah cinta pertama Putri. Maka tak heran jika ada
masalah dengan Sandi, Putri selalu kepikiran dan bahkan tidak bisa tidur
semalaman suntuk.
*****
Malam
telah berlalu. Pagi itu Reva sahabat Putri menjemput Putri untuk pergi ke
sekolah seperti biasanya. Tok.. tok... tok.. Reva mengetuk pintu kamar Putri.
“Masuk aja, tidak dikunci kok!” seruan Putri yang masih berdiri didekat cendela
kamarnya. Setelah itu Reva langsung masuk dengan nada ceria seperti biasanya.
“Lho Put kamu kenapa? Lho kamu kok belum siap-siap sih buat berangkat ke
sekolah?” tanya Reva, Putri terlihat lemas dan diam seribu bahasa seperti tidak
ingin menjawab pertanyaan Reva. Reva terdiam heran dan diapun mengabaikan
pertanyaan yang tadi dengan memberi pertanyaan lagi “Kamu kenapa sih Put?” kali
ini Putri hanya menangis tersedu-sedu seakan banyak beban dalam hatinya. Namun
lama-kelamaan Reva mengerti apa yang sedang dialami Putri “Emm.. aku tau kamu
pasti berantem lagi ya sama Sandi? Udahlah Put gak usah mikirin dia, mungkin
aja dia memang benar-benar sibuk atau gak dia lagi ada masalah!” kata Reva
sambil menenangkan Putri.
Setelah
beberapa menit Reva menunggu Putri yang sedang bersiap-siap untuk berangkat
sekolah akhirnya Putripun selesai berbenah diri, dan merekapun berangkat
sekolah. Sesampainya disekolah Putri dan Reva langsung pergi ke perpustakaan
sekolah untuk mengembalikan novel yang beberapa hari lalu dipinjam oleh mereka
dan merekapun berniat untuk meminjam novel yang lain. Saat Putri dan Reva
memilih-milih novel yang ingin dipinjamnya tak sengaja Putri menjatuhkan
beberapa buku dirak buku ke atas kepala seorang laki-laki yang sedang mencari
buku juga didepannya. Bug.. bug.. plek... suara buku-buku terjatuh. Putripun
segera menghampiri seorang laki-laki tersebut dan meminta maaf. “Maaf ya.. aku
nggak sengaja, kamu gakpapa kan?” tanya Putri dengan nada ketakutan, “Aku
gakpapa kok, santai aja!” jawab laki-laki itu sambil tersenyum melihat Putri
yang ketakutan. Putri terus memandangi wajah laki-laki itu, ia merasa mengenal
laki-laki itu. “Hey.. jangan melamun!” sambil melambaikan tangan didepan wajah
Putri. “Eh... maaf! Aku kok gak asing ya dengan kamu?” tanya Putri dengan
heran. “Hem.. aku juga merasakan itu, kamu adik kelasku waktu SMP bukan?” tanya
laki-laki itu. “Oh iya kamu kakak kelasku, nama kamu Riyan kan?” jawab Putri.
“Iya, kalau nama kamu siapa?” tanya Riyan pada Putri. “Aku Putri , salam kenal
ya!” jawab Putri sambil berjabat tangan dengan Riyan.
Setelah
lama mereka berbincang-bincang Putri baru sadar bahwa Riyan adalah salah satu
kakak kelas yang pernah dia kagumi di SMP dulu. Lama-kelamaan Putri dan Riyan
saling merasa nyaman ketika mereka bersama.
Bel
sekolahpun berbunyi, waktunya untuk kembali ke rumah. Pada saat di jalan Putri
terus senyum-senyum sendiri, sedangkan Reva heran melihat Putri yang seperti
itu. “Kamu kenapa sih Put? Kamu aneh deh, tadi pagi kamu murung dan sekarang
kamu senyum-senyum sendiri!” tanya Reva. Akhirnya Putripun menceritakan
kejadian tadi ke Reva. “Jangan-jangan nanti kamu jadi suka deh ke Riyan!” seru
Reva sambil menggoda Putri. Terdiam sejenak Putripun terus menjawab seruan Reva
tersebut. “ Enggak kok, aku nggak akan suka ke Riyan, kamu tau sendiri kan
sayangku ke Sandi gimana?” jawab Putri dengan wajah serius. “Iya deh iya yang
ada dihati kamu cuma Sandi aja.” Kata Reva sambil tersenyum.
Malam
hari hp Putri terus bergetar mendapat pesan dari Riyan. Putri berfikir pesan
tersebut dari Sandi yang ingin meminta maaf kepadanya. Namun saat ia melihat
layar hp yang dipegangnya wajah Putripun berubah menjadi kusut. “Bukan pesan
dari dia yang aku harapkan!” sambil meletakkan kembali hpnya ke atas meja
dengan nada kecewa.
Setelah
Putri selesai belajar ia bergegas ke tempat tidurnya untuk tidur. Saat ia
melihat hp yang tergeletak diatas meja iapun lansung mengambil hp tersebut dan
dilihatnya lagi layar hp tersebut, Putri kecewa ternyata sandipun masih belum
mengirimkan pesan atau menelfonnya untuk meminta maaf. Namun tidak apa-apa
untuk Putri, ia lebih memilih untuk tidak memikirkan Sandi dulu dan ia
memutuskan untuk membalas pesan dari Riyan.
**********
Semakin
lama Putri semakin akrab dengan Riyan dan mereka semakin dekat. Dan semakin
lama juga Riyan menyadari bahwa dia menyukai Putri. Tak lama setelah dia
menyadari hal itu akhirnya Riyan memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya ke
Putri.
Pada
saat bel pulang sekolah telah berbunyi Riyanpun mengajak Putri ke taman didekat
sekolahannya tersebut. “Riyan katanya ada yang mau kamu omongin ke aku? Mau
ngomong apa?” tanya Putri dengan tegas. Sambil guguppun akhirnya Riyan
mengungkapkan isi hatinya ke Putri “Put.. sebenarnya aku menyukaimu,” berhenti
sejenak lalu ia melanjutkan kata-katanya tersebut “Apa kamu mau menjadi
pacarku?” sambil menatap wajah Putri. Dalam situasi seperti itu jujur Putripun
bingung, lalu iapun menjawabnya “Maaf, aku butuh waktu Riyan.” Jawab Putri. “Em
yaudah aku akan ngasih kamu waktu Put.” Tegas Riyan. “Iya, makasih.” Jawab
Putri.
Sesampainya
Putri dirumah Sandipun sudah terlebih dahulu ada disana. “Put kamu sudah
pulang?” tegas Sandi. “Iya aku baru pulang, kamu mau apa kesini?” jawab putri,
“Aku mau ngomong sesuatu Put sebentar aja!” sambil memohon-mohon ke Putri.
“Baiklah, mau ngomong apa?” tanya Putri. “Put maafin aku selama ini aku selalu
egois sama kamu, selalu bersikap seperti anak kecil, maafin aku Put karena
selama ini aku selalu menyakitimu, mengecewakanmu, bahkan meragukan kamu. Aku
sadar bahwa hanya kamu yang terbaik buat aku, yang mau menerima aku, mencintai
aku apa adanya. Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu Put, aku harap kamu
selalu bersamaku. Jangan pernah tinggalin aku Put , aku mohon!!!” dengan
perasaan menyesal Sandi menjelaskan tentang semuanya. Tak tersadar air mata
menetes dipipi Putri. “Aku juga sangat mencintai dan menyayangi kamu San, dan
aku juga memaafkanmu. Aku berharap kamu bisa berubah dan tidak mengulanginya
lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu San!” jawab Putri. Suasana haru menyelimuti
mereka berdua.
Keesokan
harinya ketika di sekolah Riyan melihat Putri dan Sandi yang sudah baikan dan
mereka terlihat begitu mesra. Dan pada saat itu Riyan mulai berubah menjadi
pendian dan cuek ke Putri. Putripun menyadari hal itu. Lama-kelamaan Putripun
sudah tak kuat lagi dengan sikap Riyan yang seperti itu. Akhirnya Putri
mengirimkan sebuah surat ke Riyan tentang jawaban dari perasaan Riyan beberapa
hari yang lalu.
“Dear
Riyan,
Mungkin
kini ku tak bersinar seterang sang bintang. Tapi kucoba tuk tetap bertahan. Disaat
dua hati datang menghampiri aku. Ku tak yakinaku bisa memilih. Dan saat ku
memilihnya engkau pasti terluka. Ku tau kini kau memang kecewa. Tapi kumohon
engkau mengerti apa yang kini aku rasakan. Mungkin ini yang terbaik untukku dan
untuk dirimu. Aku inginkan engkau yang dulu, bukan yang kini engkau berubah. Ku
akan menyayangimu selamanya meski aku miliknya.
Putri”
Isi surat Putri yang ditulis untuk Riyan.
Sebuah lirik lagu yang ditulisnya untuk mengungkapkan isi hatinya. Dan Putri
yakin itu yang terbaik untuk dirinya, Riyan, dan Sandi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar