Selasa, 18 November 2014



DILEMA
Karya : Ella Rosatifana
                “Dalam menapaki kehidupan terkadang seseorang akan dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit untuk dipilih.
Itulah suatu Dilema .
Namun bagaimanapun juga suatu pilihan tersebut harus dipilih mana yang terbaik untuk diri sendiri dan mana yang terbaik untuk orang lain.
Jika kita selalu terombang-ambing dalam suatu pilihan maka kita tidak akan menemukan suatu jawaban yang kita pilih.”

Saat itu tengah malam sekitar jam 12.15 terlihat seorang gadis yang merenung sendirian didekat cendela cendela kamarnya, dia adalah Putri. Ia terus memandangi bintang-bintang di atas langit yang tersenyum heran melihat Putri  yang merenung sendirian dan hanya di temani oleh tetesan air mata yang keluar dari matanya. “Kenapa kamu jadi seperti ini ? Sebenarnya apa salahku? “ pertanyaan yang selalu muncul dalam hatinya.
Malam itu Putri benar – benar tidak bisa tidur karena memikirkan sikap Sandi yang tiba – tiba berubah akhir – akhir ini. Sandi adalah seorang laki – laki yang sangat Putri cintai, bisa dibilang Sandi adalah cinta pertama Putri. Maka tak heran jika ada masalah dengan Sandi, Putri selalu kepikiran dan bahkan tidak bisa tidur semalaman suntuk.
*****
                Malam telah berlalu. Pagi itu Reva sahabat Putri menjemput Putri untuk pergi ke sekolah seperti biasanya. Tok.. tok... tok.. Reva mengetuk pintu kamar Putri. “Masuk aja, tidak dikunci kok!” seruan Putri yang masih berdiri didekat cendela kamarnya. Setelah itu Reva langsung masuk dengan nada ceria seperti biasanya. “Lho Put kamu kenapa? Lho kamu kok belum siap-siap sih buat berangkat ke sekolah?” tanya Reva, Putri terlihat lemas dan diam seribu bahasa seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Reva. Reva terdiam heran dan diapun mengabaikan pertanyaan yang tadi dengan memberi pertanyaan lagi “Kamu kenapa sih Put?” kali ini Putri hanya menangis tersedu-sedu seakan banyak beban dalam hatinya. Namun lama-kelamaan Reva mengerti apa yang sedang dialami Putri “Emm.. aku tau kamu pasti berantem lagi ya sama Sandi? Udahlah Put gak usah mikirin dia, mungkin aja dia memang benar-benar sibuk atau gak dia lagi ada masalah!” kata Reva sambil menenangkan Putri.
                Setelah beberapa menit Reva menunggu Putri yang sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah akhirnya Putripun selesai berbenah diri, dan merekapun berangkat sekolah. Sesampainya disekolah Putri dan Reva langsung pergi ke perpustakaan sekolah untuk mengembalikan novel yang beberapa hari lalu dipinjam oleh mereka dan merekapun berniat untuk meminjam novel yang lain. Saat Putri dan Reva memilih-milih novel yang ingin dipinjamnya tak sengaja Putri menjatuhkan beberapa buku dirak buku ke atas kepala seorang laki-laki yang sedang mencari buku juga didepannya. Bug.. bug.. plek... suara buku-buku terjatuh. Putripun segera menghampiri seorang laki-laki tersebut dan meminta maaf. “Maaf ya.. aku nggak sengaja, kamu gakpapa kan?” tanya Putri dengan nada ketakutan, “Aku gakpapa kok, santai aja!” jawab laki-laki itu sambil tersenyum melihat Putri yang ketakutan. Putri terus memandangi wajah laki-laki itu, ia merasa mengenal laki-laki itu. “Hey.. jangan melamun!” sambil melambaikan tangan didepan wajah Putri. “Eh... maaf! Aku kok gak asing ya dengan kamu?” tanya Putri dengan heran. “Hem.. aku juga merasakan itu, kamu adik kelasku waktu SMP bukan?” tanya laki-laki itu. “Oh iya kamu kakak kelasku, nama kamu Riyan kan?” jawab Putri. “Iya, kalau nama kamu siapa?” tanya Riyan pada Putri. “Aku Putri , salam kenal ya!” jawab Putri sambil berjabat tangan dengan Riyan.
                Setelah lama mereka berbincang-bincang Putri baru sadar bahwa Riyan adalah salah satu kakak kelas yang pernah dia kagumi di SMP dulu. Lama-kelamaan Putri dan Riyan saling merasa nyaman ketika mereka bersama.
                Bel sekolahpun berbunyi, waktunya untuk kembali ke rumah. Pada saat di jalan Putri terus senyum-senyum sendiri, sedangkan Reva heran melihat Putri yang seperti itu. “Kamu kenapa sih Put? Kamu aneh deh, tadi pagi kamu murung dan sekarang kamu senyum-senyum sendiri!” tanya Reva. Akhirnya Putripun menceritakan kejadian tadi ke Reva. “Jangan-jangan nanti kamu jadi suka deh ke Riyan!” seru Reva sambil menggoda Putri. Terdiam sejenak Putripun terus menjawab seruan Reva tersebut. “ Enggak kok, aku nggak akan suka ke Riyan, kamu tau sendiri kan sayangku ke Sandi gimana?” jawab Putri dengan wajah serius. “Iya deh iya yang ada dihati kamu cuma Sandi aja.” Kata Reva sambil tersenyum.
                Malam hari hp Putri terus bergetar mendapat pesan dari Riyan. Putri berfikir pesan tersebut dari Sandi yang ingin meminta maaf kepadanya. Namun saat ia melihat layar hp yang dipegangnya wajah Putripun berubah menjadi kusut. “Bukan pesan dari dia yang aku harapkan!” sambil meletakkan kembali hpnya ke atas meja dengan nada kecewa.

                Setelah Putri selesai belajar ia bergegas ke tempat tidurnya untuk tidur. Saat ia melihat hp yang tergeletak diatas meja iapun lansung mengambil hp tersebut dan dilihatnya lagi layar hp tersebut, Putri kecewa ternyata sandipun masih belum mengirimkan pesan atau menelfonnya untuk meminta maaf. Namun tidak apa-apa untuk Putri, ia lebih memilih untuk tidak memikirkan Sandi dulu dan ia memutuskan untuk membalas pesan dari Riyan.
**********

                Semakin lama Putri semakin akrab dengan Riyan dan mereka semakin dekat. Dan semakin lama juga Riyan menyadari bahwa dia menyukai Putri. Tak lama setelah dia menyadari hal itu akhirnya Riyan memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya ke Putri.
                Pada saat bel pulang sekolah telah berbunyi Riyanpun mengajak Putri ke taman didekat sekolahannya tersebut. “Riyan katanya ada yang mau kamu omongin ke aku? Mau ngomong apa?” tanya Putri dengan tegas. Sambil guguppun akhirnya Riyan mengungkapkan isi hatinya ke Putri “Put.. sebenarnya aku menyukaimu,” berhenti sejenak lalu ia melanjutkan kata-katanya tersebut “Apa kamu mau menjadi pacarku?” sambil menatap wajah Putri. Dalam situasi seperti itu jujur Putripun bingung, lalu iapun menjawabnya “Maaf, aku butuh waktu Riyan.” Jawab Putri. “Em yaudah aku akan ngasih kamu waktu Put.” Tegas Riyan. “Iya, makasih.” Jawab Putri.
                Sesampainya Putri dirumah Sandipun sudah terlebih dahulu ada disana. “Put kamu sudah pulang?” tegas Sandi. “Iya aku baru pulang, kamu mau apa kesini?” jawab putri, “Aku mau ngomong sesuatu Put sebentar aja!” sambil memohon-mohon ke Putri. “Baiklah, mau ngomong apa?” tanya Putri. “Put maafin aku selama ini aku selalu egois sama kamu, selalu bersikap seperti anak kecil, maafin aku Put karena selama ini aku selalu menyakitimu, mengecewakanmu, bahkan meragukan kamu. Aku sadar bahwa hanya kamu yang terbaik buat aku, yang mau menerima aku, mencintai aku apa adanya. Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu Put, aku harap kamu selalu bersamaku. Jangan pernah tinggalin aku Put , aku mohon!!!” dengan perasaan menyesal Sandi menjelaskan tentang semuanya. Tak tersadar air mata menetes dipipi Putri. “Aku juga sangat mencintai dan menyayangi kamu San, dan aku juga memaafkanmu. Aku berharap kamu bisa berubah dan tidak mengulanginya lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu San!” jawab Putri. Suasana haru menyelimuti mereka berdua.
                Keesokan harinya ketika di sekolah Riyan melihat Putri dan Sandi yang sudah baikan dan mereka terlihat begitu mesra. Dan pada saat itu Riyan mulai berubah menjadi pendian dan cuek ke Putri. Putripun menyadari hal itu. Lama-kelamaan Putripun sudah tak kuat lagi dengan sikap Riyan yang seperti itu. Akhirnya Putri mengirimkan sebuah surat ke Riyan tentang jawaban dari perasaan Riyan beberapa hari yang lalu.

“Dear Riyan,
Mungkin kini ku tak bersinar seterang sang bintang. Tapi kucoba tuk tetap bertahan. Disaat dua hati datang menghampiri aku. Ku tak yakinaku bisa memilih. Dan saat ku memilihnya engkau pasti terluka. Ku tau kini kau memang kecewa. Tapi kumohon engkau mengerti apa yang kini aku rasakan. Mungkin ini yang terbaik untukku dan untuk dirimu. Aku inginkan engkau yang dulu, bukan yang kini engkau berubah. Ku akan menyayangimu selamanya meski aku miliknya.
                                                                                                                                                Putri
Isi surat Putri yang ditulis untuk Riyan. Sebuah lirik lagu yang ditulisnya untuk mengungkapkan isi hatinya. Dan Putri yakin itu yang terbaik untuk dirinya, Riyan, dan Sandi.
The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar